Intuisimu, puisi.

11 Jun 2013

Malam aku bercerita tentang cinta. Menilik kisah yang tak pernah aku ingin temui akhirnya. Bila diumpakan sebagai buku, akan penuh gambar berwarna. Cerah dan ceria, pula sedih dan duka. Terpaku aku oleh semilir kenangan.

Aku berpelukan erat dengannya. Kuhirup dalam kenangannya, menyenangkan tentu tapi tak selalu menenangkan. Selaksa kecupan ia daratkan, kubalas pelan. Melumat jimat selamanya, aku ingin mengabadi dalamnya. Tak ingin aku kehilangan memoar tentangnya. Jangan beri koma atau tanda seru. Kecupan tak semulus rambutnya. Sehitam alisnya, kuukir kisah sedalam matanya. Sisipkan kasih dalam bibirnya, usapkan sayang dalam dadanya yang tak lapang, tak kunjung lapang. 

Ada yang berjibaku dengan jiwaku. Dosa kah itu? ataukah doa yang terselip dalam setiap bunga tidur daripada malam-malamku? Berontak ia, jauh... jauh tak dapat kujangkau. Tanganku tak sampai, apalagi kasihku.

Petikkan aku nada-nada patah hati. Kembarkan rasanya. Percuma. Tidak ada yang mengerti...

Tiga titik dalam tiga hari. Mengekalkan detik-detik kata-kata. Jangan beri aku janji atau kasih, bila tak semua ingin kau bagi. 

Mengandaikan rindu sebagai bendungan. Runtuh teruntuk yang mengukir pahit, tunjukkan ia arah agar kembali.

Aku ingin kembali...

Pernah aku bilang, bahwa cemburu itu peluru. Lalu semua berhenti...begitu saja.

Oh Tuhan, betapa aku mencintai untuk terus mencintanya. Biarkan aku mengabadi, dalam setiap tarikan nafasnya. Bila itu berlebihan, setidaknya jangan tahan aku untuk terus mengasihinya dalam tiap tetes tangisku. Aku tidak ingin dilepaskan, pula tidak dengan pelepasan. 

Dosa kah? Doa tentunya.


aku selalu ingin menjadi perempuan yang menyeduhkan teh disetiap fajar untukmu, maka biarkan kita menjadi kenyataan yang sesungguhnya...

Ku harap kamu tidak capek membacanya

6 Jun 2013

Belakangan ini otak saya semakin dipenuhi oleh banyak kalimat. Mereka serasa berlari dan berputar terus-menerus. Berotasi mungkin. Seandainya otak bisa ngomong, mungkin dia juga mau bilang kalau dia juga capek.

Iya, saya pun sedang capek. Untuk berpikir, menjalani rutinitas, ini dan itu. Menghadapi padatnya jalanan kota Makassar yang entah mengapa makin hari makin membuat capek saja.

Dulu, kalau saya capek dia selalu ada. Bersedia menanggalkan kegiatan yang sedang dia kerjakan. Untuk beberapa saat saja tentunya. Karena tidak mungkin dia akan meninggalkan semuanya hanya demi mendengar keluh saya. People changes, it's sweetly natural. Dia pun seperti itu.

Mungkinkah dia juga sudah mulai capek? Capek sama saya, sama semua. Atau mungkin saya yang capek? Capek untuk mengerti kalau saya harus mengerti. Capek memaklumi dan harusnya memang memaklumi. Karena dari awal dia sudah memberikan pemberitahuan.

Tetap saja saya capek. Capek untuk berjalan kaki sendiri, memakai headset mendengarkan lagu mellow kemudian berganti dengan aliran yang lebih ngebeat tapi tetap saja saya capek. I need somebody to share on. 

Bisa saja kita perlu menyamakan lagi persepsi mengenai rasa sayang yang kita pegang dalam hubungan ini. Sayang seperti apa? Apakah seperti mengerti bahwa tidak akan ada yang berjalan sesuai dengan yang diharapkan oleh salah satu pihak? Ataukah seperti mengerti kalau memang apa yang telah disukai ataupun orang-orang yang lebih membuat nyaman itu selalu dinomer satukan? Atau mungkin kita harus membuat artian baru dari rasa sayang itu menjadi tidak ada yang memaksa untuk selalu bisa ada disaat yang paling dibutuhkan sekalipun?

Saya capek. Benar-benar capek. Too tired to explain. 

Kenapa? Karena sudah seharusnya saya capek. Bahkan untuk mengerti diri sendiripun saya mulai capek. Padahal saya sadar betul, kalau tidak ada yang akan menyayangi dirimu seperti kamu menyayangi dirimu sendiri. Sebut saya cinta diri. Karena saya memang mencintai diri saya. Dan saya masih capek, juga memilih diam sampai kamu mengerti kenapa saya capek.
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS