Kamu

26 Sep 2013

Karena kamu adalah a dari setiap z ku
Dan
Akan terus menjadi titik setelah koma dalam setiap kalimatku

Tapi
Aku bisa apa?

Ketika spasi panjang memisahkan kita?


Hujan (juga) Punya Cerita Tentang Kita

15 Sep 2013




Saya baru saja selesai membaca novel diatas. Padahal novel ini sudah lama saya beli, ketika sahabat bernama sama dengan saya di makassar. Ini sabtu malam, hari dimana banyak sekali orang lebih menghabiskan waktu diluar rumah. Entah itu untuk menghabiskan waktu bersama keluarga, teman, atau menyelesaikan tugas kuliah. Yah, saya kadang merasa heran. Padahal saya tidak tahan berkutat lama dengan buku teknik praktis riset komunikasi. Tadinya saya mencari inspirasi judul tugas akhir. Maklum, ini sudah semester dumsdums glets.

Yak, kembali ke novel ini. Ceritanya ringan. Seputar kisah cinlok KKN. Membaca buku dengan alur cerita seperti ini setelah KKN malah membuat saya ingin tertawa. Iya, ada banyak sekali cerita yang hampir mirip saya rasakan ketika masa KKN kemarin. And suddenly i miss those KKN thing. Walaupun ditempatkan di daerah yang jauh pakai banget, tapi saya bersyukur teman-teman KKN saya baik-baik semua.

Oh iya, alasan saya membeli buku ini pertama karena judulnya. Hal yang benar judul itu memiliki kekuatan tersendiri. Sekali melihat judulnya, saya langsung suka. Kalimat itu mengingatkan saya pada satu orang.

Orang yang dipertemukan dengan saya tidak dalam musim penghujan. Membaca itu menyenangkan ya? Seperti mengingat kembali kenangan yang sudah lewat. Walau cerita saya dan orang ini berbeda jauh dari yang disajikan dalam novel ini, tetap saja karena judulnya saya semakin mengingatnya.

Dia orang yang baik. Iya, tidak ada orang yang tidak baik sebenarnya. Tapi ada sih, saya misalnya. Saya merasa tidak baik. Tapi syukurlah, selalu ada orang yang membuat kamu merasa lebih baik atau berusaha membuat dirimu menjadi baik. Oh iya, saya bertemu dengan dia tidak dalam musim hujan. Tapi saya sering menggodanya dengan kata hujan. Saya memiliki teman yang mempunyai sahabat yang mempelajari sastra Jepang. Dan katanya, arti nama "ame" dalam bahasa jepang itu "hujan". Saya suka sama hujan. Suka sekali. 

Saya ingat sekali waktu dibulan desember, saya bersama Vivian bermain di bawah hujan. Kami menari, berlari, saling menyipratkan air. Saya dan Vivi melakukan itu di kampus. Agak konyol untuk perempuan seusia kami melakukan hal itu di kampus. But, who's care? Kami tidak peduli tatapan orang-orang di baruga yang melihat kami melempar payung kamu. Berlari ke tangga menuju lantai dua baruga. Berbaring disana dan saling melemparkan kalimat konyol. Rasanya senang sekali. Seakan semua beban ikut luluh bersama hujan yang turun. Entah mengalir kemana. 


FYI, it's Vivi who tell my name means is rain in Japanese language. Lalu saya memberitahu orang ini arti nama saya. Hujan.

Entah darimana saya menceritakan kaitan hujan dan cerita tentang kami. Tapi yang saya ingat jelas, dia menemani saya setiap hujan tiba. Walaupun saya selalu menghujani dia dengan hal-hal yang tidak baik. Tapi entah mengapa dia tidak memilih mengembangkan payung dan tetap bertahan dengan hujan ini. Saya juga ingat suatu hari  disaat saya sedang down, dia mengantar saya pulang. Waktu itu musim penghujan. Tapi saya menolak jaket yang dia tawarkan. Kataku "ini hanya hujan!" dan wosh! kami menembus hujan itu bersama. Basah kuyub pastinya, dan esoknya saya terkena  gejala tipes. Hahaha. It's kinda funny thing you know. Atau satu kali, juga dimusim penghujan. Saat itu saya ada tugas membuat essay foto. Dan saya memilih fly over. Dia ada, tentunya menemani dengan setia. Padahal itu siang yang terik. Tapi siapa yang sangka malamnya hujan deras. Waktu itu fisik saya sedang lemah, iya sih saya berfisik lemah. Dan akhirnya saya tidak sanggup untuk berkendara sendiri pulang. Dia yang mengantar. Rela menggendong saya yang kayak karung beras ini sampai dengan selamat depan pintu rumah. 

Saya jadi mengingat banyak hal setelah melihat judul novel tersebut. Hujan selalu punya cerita tentang kami. Entah itu kisah bahagia, atau kebalikannya. 

Dan saya sangat bersyukur karena sampai hari ini saya tetap menjadi hujannya. Dan semoga saja akan terus menjadi hujannya. 






i do love rain, because you're there with me#AM

Firasat

17 Agu 2013

fi·ra·sat n 1 keadaan yg dirasakan (diketahui) akan terjadi sesudah melihat gelagat.


Si
Kamu pernah tidak merasakan momen " i've got a feeling? "

Yap, saya sedang merasakan momen itu. This feeling really drive me mad. Saya tidak tau mesti ngapain. Mau marah juga tidak mungkin, karena sekali lagi ini hanya rasa. Kamu tidak akan tau itu bakalan terjadi atau tidak. Hanya rasa, mungkin terlalu sering merasa.

Seperti yang KKBI bilang diatas, firasat itu datang ketika saya telah (atau malah sering) melihat gelagat seseorang. Kadang saya sedih sendiri, karena terlalu banyak kenapa yang tidak bisa saya tanyakan kepada orang tersebut. Tapi sendainya saya bisa, kenapa yang paling besar itu ialah "kenapa mesti sekarang?"

Ada saat dimana kamu merasa dan yang dirasakan itu menjadi kenyataan. Kalau kejadiannya baik, siapa saja pasti berbahagia. Kalau kebalikannya? Semoga itu jalan Tuhan untuk menjadi lebih baik.

Sedih yang tak beralasan karena firasat. Bagi dia yang tidak merasa ini hanya rasa yang berlebihan atau bahkan konyol karena terlalu takut. Untuk apapun itu, sungguh saya tidak ingin takut.

Tulisan ini saya publish dengan harapan semoga yang bertingkah terlalu berlebihan bisa mengerti kalau there's someone out there watching your attitude. Dan kadang kalau untukmu tidak berlebihan tapi malah bisa menjadi firasat buruk bagi yang lain. Jadi tolong, ikhlaskan saja yang berlalu, bila itu terlalu berlebihan cukup ingat kalau tidak ada salahnya menjaga perasaan orang lain. 

Terima kasih.

Te
Sedi



I've 



I;

Intuisimu, puisi.

11 Jun 2013

Malam aku bercerita tentang cinta. Menilik kisah yang tak pernah aku ingin temui akhirnya. Bila diumpakan sebagai buku, akan penuh gambar berwarna. Cerah dan ceria, pula sedih dan duka. Terpaku aku oleh semilir kenangan.

Aku berpelukan erat dengannya. Kuhirup dalam kenangannya, menyenangkan tentu tapi tak selalu menenangkan. Selaksa kecupan ia daratkan, kubalas pelan. Melumat jimat selamanya, aku ingin mengabadi dalamnya. Tak ingin aku kehilangan memoar tentangnya. Jangan beri koma atau tanda seru. Kecupan tak semulus rambutnya. Sehitam alisnya, kuukir kisah sedalam matanya. Sisipkan kasih dalam bibirnya, usapkan sayang dalam dadanya yang tak lapang, tak kunjung lapang. 

Ada yang berjibaku dengan jiwaku. Dosa kah itu? ataukah doa yang terselip dalam setiap bunga tidur daripada malam-malamku? Berontak ia, jauh... jauh tak dapat kujangkau. Tanganku tak sampai, apalagi kasihku.

Petikkan aku nada-nada patah hati. Kembarkan rasanya. Percuma. Tidak ada yang mengerti...

Tiga titik dalam tiga hari. Mengekalkan detik-detik kata-kata. Jangan beri aku janji atau kasih, bila tak semua ingin kau bagi. 

Mengandaikan rindu sebagai bendungan. Runtuh teruntuk yang mengukir pahit, tunjukkan ia arah agar kembali.

Aku ingin kembali...

Pernah aku bilang, bahwa cemburu itu peluru. Lalu semua berhenti...begitu saja.

Oh Tuhan, betapa aku mencintai untuk terus mencintanya. Biarkan aku mengabadi, dalam setiap tarikan nafasnya. Bila itu berlebihan, setidaknya jangan tahan aku untuk terus mengasihinya dalam tiap tetes tangisku. Aku tidak ingin dilepaskan, pula tidak dengan pelepasan. 

Dosa kah? Doa tentunya.


aku selalu ingin menjadi perempuan yang menyeduhkan teh disetiap fajar untukmu, maka biarkan kita menjadi kenyataan yang sesungguhnya...

Ku harap kamu tidak capek membacanya

6 Jun 2013

Belakangan ini otak saya semakin dipenuhi oleh banyak kalimat. Mereka serasa berlari dan berputar terus-menerus. Berotasi mungkin. Seandainya otak bisa ngomong, mungkin dia juga mau bilang kalau dia juga capek.

Iya, saya pun sedang capek. Untuk berpikir, menjalani rutinitas, ini dan itu. Menghadapi padatnya jalanan kota Makassar yang entah mengapa makin hari makin membuat capek saja.

Dulu, kalau saya capek dia selalu ada. Bersedia menanggalkan kegiatan yang sedang dia kerjakan. Untuk beberapa saat saja tentunya. Karena tidak mungkin dia akan meninggalkan semuanya hanya demi mendengar keluh saya. People changes, it's sweetly natural. Dia pun seperti itu.

Mungkinkah dia juga sudah mulai capek? Capek sama saya, sama semua. Atau mungkin saya yang capek? Capek untuk mengerti kalau saya harus mengerti. Capek memaklumi dan harusnya memang memaklumi. Karena dari awal dia sudah memberikan pemberitahuan.

Tetap saja saya capek. Capek untuk berjalan kaki sendiri, memakai headset mendengarkan lagu mellow kemudian berganti dengan aliran yang lebih ngebeat tapi tetap saja saya capek. I need somebody to share on. 

Bisa saja kita perlu menyamakan lagi persepsi mengenai rasa sayang yang kita pegang dalam hubungan ini. Sayang seperti apa? Apakah seperti mengerti bahwa tidak akan ada yang berjalan sesuai dengan yang diharapkan oleh salah satu pihak? Ataukah seperti mengerti kalau memang apa yang telah disukai ataupun orang-orang yang lebih membuat nyaman itu selalu dinomer satukan? Atau mungkin kita harus membuat artian baru dari rasa sayang itu menjadi tidak ada yang memaksa untuk selalu bisa ada disaat yang paling dibutuhkan sekalipun?

Saya capek. Benar-benar capek. Too tired to explain. 

Kenapa? Karena sudah seharusnya saya capek. Bahkan untuk mengerti diri sendiripun saya mulai capek. Padahal saya sadar betul, kalau tidak ada yang akan menyayangi dirimu seperti kamu menyayangi dirimu sendiri. Sebut saya cinta diri. Karena saya memang mencintai diri saya. Dan saya masih capek, juga memilih diam sampai kamu mengerti kenapa saya capek.
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS