Jakarta, 16 Januari 2000
Hari ini aku absen sekolah. Dahiku hangat, kata mama aku terkena penyakit namanya flu, kependekan dari influenza katanya. Jadinya hari ini aku hanya berbaring saja di kasur. Ibu sibuk memasak di dapur. Ayah sedang bekerja.
Bali, 16 Agustus 2012
Aku bergegas menerobos hujan. Aneh, padahal ini bukan musim penghujan. Dan akhirnya dengan setengah basah aku tiba di rumah. "Hmm, hari ini ibu masak apa yah?" pikirku sembari mendorong pagar.
DOR!!!
Aku tersentak seketika. Pandanganku jadi buram. Ayah! itu ayah! Ibu! itu ibu! Itu ibu yang berlari menerobos hujan, menyongsong tubuh ayah yang tergeletak di rumput hijau. Air hujan menjadi merah. Aku menjadi biru.
Palu, 16 Maret 2020
Ibu hari ini memasak lagi. Setelah sekian lama menghilang dari dapur. Sepertinya ibu tengah merindu. Aku pulang cepat hari ini. Kerjaan di kantor kuselesaikan lebih cepat, itu hanya karena aku ingin merasakan lagi masakan ibu. Hari ini hujan ini, untungnya besi berbentuk kotak dengan roda empat ini melindungiku.
Setiba di rumah. Kucabut kunci mobil dan membuka pintu rumah.
PRANGGGGG!!!!!
Aku tersentak seketika. Bergegas aku ke asal suara itu, dapur. Kutemukan ibu sedang setengah membungkuk. Kulihat lantai. Hatinya pecah, berjatuhan menjadi serpihan. Ibu tetap tersenyum selagi memungut hatinya.
Paris, 16 September 2027
Aku duduk sendiri di bangku taman ini. Aku suka sekali berada di sini. Tenang dan nyaman. Perlahan kubuka kotak besi bergambar pohon mangga. Itu kepunyaanku, pemberian dari ayah dan ibu setelah memenangkan lomba menggambar. Aku meneruskan membuka kotak itu.
Kuintip perlahan, isinya masih berserakan. Hati ibuku, padahal sudah kucoba merekatkannya dengan lem paling lengket (kata penjual di toko itu) tapi tetap saja berserakan.
Aku melemparkan pandangan ke arah bunga-bunga lili itu. Lalu aku sadar, hati ibu tidak dapat aku rekatkan. Ayah sudah lama pergi, membawa lem yang bisa merekatkan hati ibu. Tapi tak apalah, toh sekarang mereka sudah bersama lagi. Beberapa bulan yang lalu ibu dipanggil untuk menyusul ayah.
Aku tersenyum saja mendengarnya.
DOR!!!!!
Aku bergidik. Perlahan aku berbalik, suamiku sudah tersungkur di samping bangku tempatku duduk.
Jakarta, 16 Januari 2030
Aku terbaring lagi di kasurku hari ini. Rasanya badanku tidak enak. Kurogoh kotak besi milikku, kubuka sebentar. Hanya untuk menyimpan hatiku yang pecah. Hari ini katanya aku harus pergi menyusul kedua orangtua ku. Kuselipkan sepucuk surat untuk anakku. Isinya biasa saja. Hanya pesan agar hatiku dibiarkan saja menjadi serpihan. Karena yang dapat merekatkannya akan aku temui juga hari ini.
"Aku bersurat karena kau tiada bisa meraba siratanku." #IP
16
7 Sep 2012
Makassar, 07 September 2012. 00:00 PM
Teruntuk lelaki manis yang sedang mengulang hari dan bulan kelahirannya.
Selamat mengulang hari dan bulan kelahiran, manis.
Aku tak tahu pasti pada detik keberapa dua puluh satu tahun silam ibumu melahirkanmu kedunia ini. Tetapi sekiraku detik-detik inilah perempuan baik itu bersama ayahmu bersiap menyambutmu kepelukan mereka.
Tiap bulanpun sebenarnya kau mengulang hari dimana bumi diberikan satu penduduk lagi berjenis kelamin lelaki. Bukankah hidup seputar pengulangan, sayang? Kira-kira begitulah bagiku.
Tiga ratus enam puluh lima hari berlalu setelah aku menuliskan kalimat selamat untukmu. Masih di bulan September yang berbeda tahun. Sebenarnya sama saja, sayang. Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Memperbincangkan apa yang terbaik untukmu bersama Tuhan melalui doa.
Masih untuk lelaki manis yang sedang mengulang hari dan bulan kelahirannya. Tidakkah kau lihat bulan malam ini? Bersinar terang dan kokoh di atas kelamnya langit malam ini. Bertukar molekul udara malam dan menyalurkan kerinduan dalam dinginnya angin malam.
Teruntuk lelaki yang aku kenal lebih dari tiga ratus enam puluh lima kuadrat.
Selamat mengulang hari dan bulan kelahiran, sayang.
Tetaplah menjadi lelakiku yang kuat.
Segala doa terbaik untukmu dariku untuk hari ini dan seterusnya.
Tertanda,
Yang akan selalu mencintaimu
Amalia Zul Hilmi
31 Jul 2012
![]() |
| via tumblr |
Aku terlahir dari sastra
Kedua orangtuaku mengawinkan sajak dan aksara yang mereka miliki
Lalu hadirlah aku dengan segala puisiku
Sedari kecil aku bergelut dengan Yang Terkasih dari paman Chairil
Bermain dengan prosa dan menikmati tiap lekuk metaforanya
Lalu aku bertumbuh besar
Belajar mengenai hidup dalam lingkup rima
Sewaktu senja aku bertemu denganmu
Lelaki baja yang tak mengenal kata dan rasa
Yang sedang melempar tanya pada semilir angin September
Tak sengaja pandangan kita bertemu
Pancaran malam Desember kental terasa didalamnya
Menguraikan peluh kerja keras untuk masa depan
Ada yang salah akan penglihatanmu padaku sore itu
Tatapan menghujam penuh tuntutan akanku
Terselip cemooh dibalik kedipan matamu
Akan setiap tarikan garis dari penaku
Terlontar banyak sekali kalimat pembenaraan atas apa yang telah kau pelajari dan yang tidak ku ketahui sama sekali
Lama aku menarik nafas lalu kehembuskan tegas depanmu
Kubilang
Hanya karena aku beranalogi lantas kau menyebutku pemilih
Bukan berarti karena aku menulis lantas aku melupakan hari ini
Karena kita tidak membaca buku yang sama
Lantas jangan heran bila kita tidak memiliki isi kepala yang sejajar
Lalu kau pergi
Merobek surat berisi aku
Kau lihat itu?
Karena dalam marahkupun aku tetap menganalogikanmu dengan bunga
Bahkan ketika aku ingin memakimupun ku sebut kau dengan yang terkasih
23 Jul 2012
![]() |
| photo taken by me |
7 Juni 2012, Tangkuban Perahu-Bandung
So i have a feeling to you about a year. I won't tell you cause i afraid that you gonna ignore me. But see now, i regret it. You just in relationship with someone i know. I know, i must be more brave when the first time i realize that i love you...so much.
22 Jul 2012
![]() |
| via tumblr |
If I die young, bury me in satinLay me down on a bed of rosesSink me in the river at dawnSend me away with the words of a love song
There's a boy here in town, says he'll love me forever
Who would have thought forever could be severed byThe sharp knife of a short lifeWell, I've just enough timeOh I guess I've just enough time to realizeTo realize that if I die youngThere's a boy here in town, says he'll love me forever
Forever....forever..
Langganan:
Postingan (Atom)



