i don't wanna miss a thing

9 Jul 2014

Jarum jam dirumah ku sudah menuju ke angka dua belas sementara warna hitam bergelayutan di luar jendela kamarku. Sedangkan jarum jam mundur satu langkah ditempatmu.

Perbedaan sudah menjadi hal yang lumrah sejak kali pertama kita memutuskan untuk berjalan bersama. Awal yang sangat tidak mudah untuk ku. Juga untuk kamu mungkin. Tetapi lagi, ternyata tidak ada yang tidak bisa dilewati dalam lembar hidup ini.
Masih jelas rasanya saat aku berbaring dibawah langit gelap berhiaskan bintang dan bulan yang mengintip. Aku yang mencuri dengar perbincanganmu dengan kawanmu, mengenai kelabunya kamu akan sesuatu yang tidak perlu dibahas lagi. Aku yang bertanya mengenai lingkaran putih diluar bulan, ketika perbincanganmu selesai; hanya untuk menutupi bahwa aku sudah mencuri dengar. Aku masih ingat malam-malam setelahnya kita masih sering membahas mengenai langit.

Hingga akhirnya kaki-kaki kita melangkah pada tempat yang selalu mendebarkan bagi kisah ini. Berat rasanya untuk membalikkan badan ketika langkah kaki mu tidak terlihat lagi. Tetapi kebalikannya, raga ini serasa sangat ringan ketika aku tahu hanyak tinggal beberapa langkah kaki lagi mata ku sudah bisa menangkap bayanganmu.

Adalah benar tidak selamanya hidup terasa manis. Aku pernah terpuruk, sangat sangat terpuruk. Hingga aku melupakan kalimat yang selama ini selalu kita umbar satu sama lain. Bahwa tidak ada kebaikan dari membenci. Dan bahwa ini hanya persoalan waktu.
Pada akhirnya, aku sadar. Bahwa aku sendiri yang memiliki prinsip “playing hard to get, any harder to let go”. So, I guess it’s the time.

Hari ini, aku kembali tersadar bahwa my worst day is better when you around me than my best day but you’re not there.

Kita memang tidak sempurna. Dan kita telah sepakat bahwa pengetahuan manusia menjadi tidak terbatas ketika mereka tidak berdiri sendiri. Maka yakinlah hari ini aku merasa tidak terbatas, because I know I have stand on the right side; it’s beside you.

Pada 1417km yang memisahkan raga kita, tidak sedikitpun aku ragu. Karena padamu yang telah kuyakini untuk selalu ada. Tidak mudah, selalu tidak ada yang mudah ketika ingin meraih mimpi. But I believe that distance is only the matter of number. Tinggal sedikit lagi ribuan kilometer ini menjadi satu diantara bahan obrolan tiap malam kita. Tinggal sedikit lagi. Dan karena ini tidak mudah, maka tetaplah menjadi kuat ketika aku mulai lemah. Tetaplah menjadi pengingat ketika aku mulai lupa. Karena aku akan melakukan hal yang sama.

Terima kasih karena telah memilih untuk setia pada perasaan yang pernah ada. Terima kasih karena tidak tertawa ketika badai air mata tidak berhenti mengalir dari pelupuk mata ini. Terima kasih karena mempunyai mimpi yang sama denganku. Tetaplah seperti itu, hingga kita berikrar untuk menjadi Rumi yang sesungguhnya.


Terima kasih, kak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS