I Miss You

16 Des 2013

"They say bad things happen for a reason
But no wise words gonna stop the bleeding"

Ingatkah kamu pada satu malam di bulan desember? Ketika kita duduk berdampingan tanpa mengucapkan satu katapun? 
Ada yang tertahan didalam dadaku malam itu. Ketika kita melaju dalam kecepatan yang tidak biasa kita lakukan. 
Aku bisa saja memulai. Kamu bisa saja mengakhiri. 
Tapi yang ada adalah kita hanya terdiam. Terlumat kata-kata kita sendiri. 

Apa?

Apa yang lebih menyakiti hati ini ketika kedua pelupuk matamu tidak lagi memandang lurus kepadaku? 

Ada?

Ada yang lebih dingin dari kalimat sabar yang terlontar dari mulutmu untukku?

Kamu tahu apa soal rindu? 

Kamu yang bilang akan ada pelangi setelah hujan turun. Katamu hujan membuatmu sedih. Katamu lagi hujan menyakitimu.

Itu bukan hujan yang membuatmu sedih. Itu angin yang berhembus terlalu kencang. Hingga membuat matamu berair.

Bahkan ketika kamu tersungkur karena angin, hujan menolongmu untuk menutupi linangan air dari sudut matamu.

Kamu tahu apa soal tersakiti?

Aku ingin sekali mancaci bahkan bila sanggup aku ingin memakimu keras-keras. Membuat telingamu jengah akan jeritanku. Akan apa yang tersirat dari setiap kedipan mataku tiap kali aku memandangmu.

Tapi yang aku lakukan hanyalah membuka jendela lebar-lebar dan meneriakan kalimat yang bahkan otakku tidak mampu lagi mencernanya.


"BETAPA AKU MENCINTAI LELAKI DISAMPINGKU!!!!!"

Kemudian aku menutup kembali jendela, lalu berbalik dan tersenyum kearahmu. Kamu hanya bisa menggenggamku. 

Jadi, jangan lagi pertanyakan kenapa aku tidak pernah menjawab ketika kamu mengatakan bila kamu mencintaiku. Bila kamu merindukanku.

Kamu tidak sedikitpun tahu betapa aku mencintaimu sampai mulutku terbungkam sendiri. Kamu tidak sedikitpun tahu betapa aku merindukanmu sampai hatiku lebam sendiri.

Lalu masihkah kau membenci hujan, Sayang?

Jantungku tidak lagi berdegup kencang tiap kali melihatmu. Karena ia sudah menjadi bagian darimu. 

Another side of birthday

20 Okt 2013

Halo, selamat malam. 

Apakabar kalian semua? Saya harap baik saja.

Well, bulan oktober adalah salah satu bulan favorit bagi saya. Selain karena saya terlahir dibulan ini, juga karena mama dan kakak aci juga mengalami hal yang sama. Dan yang membuat saya terkadang cemburu ialah karena kakak aci tanggal lahirnya sama dengan mama. 
Saya sering protes dulu, kenapa saya tidak lahir di tanggal yang sama; 19. Dan mama selalu menjawab begini, "pas tanggal segitu mama sudah panggil-panggil ade, tapi ade masih betah kayaknya didalam perutnya mama."

Yap, kemarin adalah hari ulang tahun mama dan kakak aci. Allah sent me an angel that i call her mom and one true friend that i call her sister. 
Pagi kemarin saya bangun dan menyalami serta cium kening mama. Karena kakak aci sudah pergi berangkat kerja. 

Moment ulang tahun identik dengan kebahagiaan. Tapi, mungkin itu tidak berlaku bagi ulang tahun kakak aci tahun ini. 

Selepas magrib tadi saya rencananya mau ke gramedia. Untuk mencari buku yang disarankan oleh teman saya untuk dibaca. Setelah siap-siap dan pamitan, sayapun berangkat. Setengah perjalanan tiba-tiba handphone saya berbunyi, ternyata ada yang menelpon. 

"Halo ade, diba ini dek. Emm, masuk ugd aci di plamonia"
"....., astaga iye kak iye"

Seketika itu saya jadi dingin. Saya bahkan diturunkan dijalan oleh supir pete-petenya. Mungkin dia kesal karena saya tiba ngaco bilang saya mau turun di RS. Pelamonia sedangkan itu bukan jalurnya.

Alhasil sayapun turun. Dipinggir jalan saya terus menelpon mama. Nomer mama sibuk. Saya coba sekali lagi, dan masih sibuk. 

Saya blank. Sampai lupa dimana lokasi Rumah sakit itu. Dan dengan sedikit mencoba tenang saya ingat kembali dimana rumah sakit itu berada. Setelah saya ingat lokasi rumah sakit itu, saya baru ingat lagi kalau ternyata uang tunai yang saya miliki saat itu cuma empat ribu rupiah. Yap, cuma cukup untuk sekali naik pete-pete. Saya mencoba tenang lagi. Dan Alhamdulillah ada taksi yang lewat. Saya memutuskan untuk naik taksi saja, nanti kalau ada atm baru singgah ambil duit. 

Untungnya supir taksinya baik. Dia dengan ramah menanyakan siapa yang di rumah sakit. Dan dengan sedikit melamun saya menjawab kakak saya. 

Akhirnya saya tiba di depan pintu UGD. Serasa di sinetron yang menanyakan dimana keberadaan kakak saya. Perawatnya menunjukkan, dan saya buru-buru kesana. And, she is there.

Kakak saya dengan kemeja pink saya terbaring di ranjang yang hanya muat untuk dirinya saja. Disudut ruang UGD, dan ada selang oksigen mangkal di hidungnya. Oh...

Seperti ada pisau yang mengiris-iris hatiku saat itu. Iya, saya mulai menitikan air mata.

"Kenapa ko ada disini?" she ask me slowly
"Kenapa ko? Sakit ko? Kenapa ko ada disini padahal ulang tahu  ko?" hanya itu yang bisa saya bilang. Selebihnya?
 
Saya keluar ruangan untuk menangis.

Entah mengapa saya begitu merasa sedih. Padahal tadi pagi pas setengah sadar saya masih lihat kakak saya senyum-senyum. Dan saya belum bilang selamat ulang tahun kepadanya. 
Saya sayang kakak saya. Walaupun hampir setiap hari saya jengkel setengah mati sama dia. Tapi, dia yang selalu ada. She's my true friend like i said before. Saya selalu cerita apa saja dengan dia. Dan disaat saya sakit, diinfus dan tidak bisa apa-apa, she always take care of me.

So, how could i can't cry to see her in that conditon?

Dia bahkan masih sempat bertanya saya datang dengan siapa. Appu mana. Kenapa saya datang sendiri? 

I just lost my words. I know that she not too like my new boyfie, but... Dia masih sempat tanya dimana dia...

Dan itu yang membuat hati ini teriris-irisnya dobel.

I cry in silince out of ugd room. Temannya kakak aci keluar untuk menyuruh saya masuk. But i just can't. Dia tidak mengerti bagaimana rasanya melihat seseorang yang dimata saya kuat terbaring seperti itu.

Akhirnya saya duduk di pinggir jalan saja sambil mencoba menghubungi bapak. Dan syukurlah bapak mengangkat dan segera menuju kesini.

Selama menunggu bapak, pikiran saya melayang-layang. Seperti layang-layang kepa'. 

Well, my only question is "where is he when i need him the most?"

Saya hanya butuh seseorang untuk mendampingi. Karena saya terlalu rapuh untuk terus berpura-pura kuat.

But, universe tends as it should. Semesta  punya caranya sendiri untuk menghiburku.

Terima kasih.

Akhirnya mama bapak tiba. Kakak aci akhirnya dibawa pulang untuk dirawat dirumah saja. 

Saya pulang dengan hati yang kosong.
Tapi tetap saja bersyukur. 

Semoga kita selalu dalam lindungan-Nya. Semoga kita akan selalu kuat dengan cara-Nya.

Amin



Untuk-Nya

18 Okt 2013

Tuhan 
Aku tahu aku hanya bagian terkecil dari dunia ini. Yang tidak bisa melakukan apapun tanpa kehendakMu.

Tuhan
Tidak banyak yang bisa kusampaikan padaMu dari mulutku. Karena aku tahu begitu banyak dosa yang telah kuperbuat. Dan aku malu padaMu.

Tuhan
Hanya Engkau yang mengerti segala bahasa. Bahkan yang tak dapat ku bahasakan pun aku yakin Kau mengerti. 

Dan yang mengalir dari ujung mata ku malam ini Tuhan, aku tahu Engkaulah satu-satunya yang mengerti mengapa itu semua bisa terjadi. Kalimat-kalimat maaf yang ku lantunkan hanya untukMu. Engkau yang Maha mengetahui segala isi hati kami, berikan kami ketenanganMu. Atas segala keresahan yang menyelimuti hati dan hari, terangkanlah.

Aku tahu Kau satu-satunya tempat dimana aku bisa merasa benar-benar aman. Karena Engkaulah pemilik kami. 

Kami bisa apa tanpaMu?

Dan diantara gelapnya langit malam ini, kuhantarkan sejuta keraguanku padaMu. 

Benarkanlah..

Lapangkanlah..

Amin.

Rindu

14 Okt 2013

Halo. Selamat tengah malam, semoga malam menjelang pagi ini menyenangkan bagi kita semua. 

Saya ingin berbagi pikiran kali ini. Karena bukankah berbagi itu pekerjaan yang menyenangkan? Hehe.

Well, saya sering sekali mendengar kalimat ini "cinta itu buta" atau "cemburu itu buta". Tapi sangat jarang atau bahkan saya belum pernah ada yang mengatakan "rindu itu buta". Kenapa?
Kadang saya merasa lucu karena setiap rasa itu mereka katakan "buta". Cinta katanya buta, karena kita tidak memandang lagi seseorang dari luarnya saja ketika mulai mencinta. Lalu kemudian cemburu itu buta. Karena ia tidak memilih apa atau siapa yang mendekati atau terlalu dekat kepada yang dicinta hingga membuat kita menjadi cemburu. Dan kemudian menurutku rindupun buta. Karena dia tidak bisa memilih waktu yang tepat untuk merindu. 

Mungkin, ini masih kemungkinan buatku. Kadang kita terlalu mencintai sesuatu ( bisa jadi ia makhluk hidup ataupun tidak ) terlalu dalam, makanya ia jadi gampang cemburu atau gampang rindu. Tapi, mungkin nih masih kemungkinan, ini cuma perkara pembiasaan diri. 

Kita semua tahu tidak ada yang bisa terjadi dalam sekejap saja. Bahkan mie instant pun membutuhkan setidaknya 5-10 menit untuk bisa dinikmati. Sebenarnya ini kalimat klise. Kita sering sekali mendengar, berucap, dan memberikan kalimat ini kepada orang lain atau untuk diri sendiri. 

"Sabar saja, semua ada waktunya"

Iya kan? Malam ini saya mulai memahami sedikit demi sedikit, semoga lama-lama menjadi bukit. Kalau tidak ada sibuk yang bertahan selamanya, juga rindu yang bertepuk sebelah tangan. 

Saya juga pernah menulis satu postingan diblog ini, "beri cinta waktu". 


Because true love worth to wait.

Tenang saja, semua rindu akan membuka matanya dan belajar melihat lagi seiring berjalannya waktu. Kita hanya butuh bersabar dan kemauan diri untuk terus mencoba menjadi lebih baik. 

Akhirnya saya ucapkan selamat malam dan selamat beristirahat. Semoga kita menjadi semakin lebih baik bersama waktu yang berjalan. 

Amin

Jauh yang terlalu jauh

12 Okt 2013

Sabtu, 12 oktober 2012

Ku hempaskan tubuhku dihamparan rerumputan bukit belakang sekolah. Ahh, nyaman sekali. Seakan seluruh masalah ikut tertiup bersama angin yang berhembus. 
Angin sore hari memang selalu menyenangkan.

Brukkk..

Aku berbalik, ternyata bukan hanya tubuhku yang tergeletak dihamparan rerumputan sore ini.

"Melamun lagi, Am? Kan sudah kubilang untuk mengajakku juga kalau kesini. Kamu curang ah, hanya ingin menikmati tempat ini sendiri"

Suara yang familiar. Suara yang selalu terdengar ditelingaku sejak tahun lalu.

"Ah, siapa bilang aku sedang melamun? Aku hanya berbaring disini. Tidakkah kau lihat kita sama-sama terlentang disini? Hmm, iya sih. Mungkin aku memang curang padamu. Aku memang tidak ingin membagi tempat ini dengan siapapun sebenarnya. Tapi sudahlah, sekarang aku memutuskan untuk berbagi tempat ini denganmu" ujarku.

Lelaki bermata sendu itupun berbalik ke arahku. Dengar senyuman khasnya ia kembali berbicara.

"Kau tahu Am, aku ingin sekali menjadi bulan"
"Bulan? Kenapa? Hal itu terdengar sangat manis untuk lelaki seperti mu"
"Hahaha kamu ini! Ada-ada saja. Iya, aku ingin menjadi bulan. Karena ia selalu ada diatas sana. Melihatmu tanpa pamrih. Walaupun kadang kita tidak menyadari kehadirannya. Oh iya, kau tahu Am, aku sering memperhatikan bulan. Dan aku mehyadari satu hal"
"Apa?"
"Disamping bulan selalu ada satu bintang. Jarak mereka lumayan dekat tapi tidak pernah bisa berdampingan. Bagiku itu seperti pengagum rahasia. Dan aku tahu rasanya jadi bintang itu hahaha"
"Jadi, kamu ini mau jadi bulan atau bintang sebenarnya?"tanyaku sambil berbalik kearahnya
"Aku, ingin jadi bulan Am. Agar aku bisa melihatmu dimanapun kamu berada. Dibelahan bumi manapun. Aku ingin selalu bisa melihatmu Am"
"Ap..."

Aku kehabisan kata-kata.



Sabtu, 12 oktober 2013

Aku membuka mata. Sejauh ini retinaku masih dipenuhi oleh warna hijau. Hari sudah sore. Angin sore hari ini terasa berbeda. Tidak lagi menyenangkan seperti sabtu tahun lalu. 

Aku memandang langit. Masih senja. Matahari bahkan belum seutuhnya berganti posisi dengan bulan. 

Bulan...

"Ap, kamu tahu. Sekarang aku mengerti kenapa kamu ingin menjadi bulan. Sekarang aku mengerti rasanya jadi bintang didekat bulan. Ap, seandainya sore itu aku tidak kehabisan kata-kata. Aku ingin kita tetap bersama dibumi. Kamu tahu Ap. Langit terasa lebih gelap semenjak kepergianmu. Dan konyolnya sinar bulan bagiku terasa lebih terang sejak saat itu. Hah... Ap.. Ap... Langit terlalu jauh. Kamu juga," hela ku sore itu pada angin yang berhembus. Semoga kalimatku ini sampai padamu, Ap.

Pengaruhnya?

29 Sep 2013

*sedang mendengarkan Keane-She has no time*

Halo semuanya, apa kabar hari minggu kalian? Saya harap baik saja.

Hari ini, akhirnya setelah sekian lama saya memotong rambut. Dan potongan kali ini adalah potongan rambut terpendek selama saya berkuliah. Yah, dikit lagi mirip Dora deh hihi. Kalau ditanya mengenai alasan, selain karena cuaca kota Makassar yang entah mengapa semakin hari semakin hot juga karena alasan perasaan.

Semenjak duduk di sekolah dasar saya sudah gemar membaca. Terutama komik serial cantik. Dan akhirnya ketika menginjak sekolah menengah lanjutan, di komik-komik serial cantik yang saya baca itu selalu menggambarkan bila seseorang mengalami patah hati maka ia akan melampiaskannya dengan memotong rambutnya. Atau yang sering saya dengar dengan memotong rambut katanya sekalian buang sial.

Diantara percaya dan tidak, saya sering melakukan itu. Kalau sedang merasa dirundung masalah, saya memotong rambut. Mungkin benar untuk membuang sial. Tapi pada saat itu saya sebenarnya masih tidak mengerti kenapa dengan memotong rambut sial itu hilang? Atau perasaan sedih itu pergi?

Well, sampai akhirnya tadi setelah memotong sangat pendek rambut ini saya baru menerka-nerka. Seperti dalam film 500 days of Summer. Dalam film itu dikatakan bahwa satu-satunya kesukaan Summer ialah memotong rambutnya sendiri, karena itu kegiatan yang tidak membuatnya terluka. 

Mungkin, dengan membuang beberapa centi dari kepala akan sedikit meringankan. Sayapun berharap agar biarlah masalah-masalah yang ada ikut tergunting bersama rambut itu. Tapi nyatanya tidak. Masalah itu tetap ada. Lalu, kemana feeling better when have a new hair cut gone? 

I do wishing that this worst feeling is gone away as easy as a cutting hair...

*take a deep sigh*

Kembali, ternyata sekali lagi masalah tidak akan hilang setelah kita potong rambut. Ia harus tetap dihadapi.


Tapi saya takut untuk menghadapinya sendiri. Dan saya rindu... rindu akan dia yang selalu ada menemani...

Akhirnya dengan potongan rambut pendek ini, saya berharap saya bisa mulai belajar menghadapi segalanya sendiri. Iya... semoga saja saya kuat, karena saya tahu ini hanya sebagian kecil dari alur dalam hidup ini yang harus dijalani...

Kamu

26 Sep 2013

Karena kamu adalah a dari setiap z ku
Dan
Akan terus menjadi titik setelah koma dalam setiap kalimatku

Tapi
Aku bisa apa?

Ketika spasi panjang memisahkan kita?


Hujan (juga) Punya Cerita Tentang Kita

15 Sep 2013




Saya baru saja selesai membaca novel diatas. Padahal novel ini sudah lama saya beli, ketika sahabat bernama sama dengan saya di makassar. Ini sabtu malam, hari dimana banyak sekali orang lebih menghabiskan waktu diluar rumah. Entah itu untuk menghabiskan waktu bersama keluarga, teman, atau menyelesaikan tugas kuliah. Yah, saya kadang merasa heran. Padahal saya tidak tahan berkutat lama dengan buku teknik praktis riset komunikasi. Tadinya saya mencari inspirasi judul tugas akhir. Maklum, ini sudah semester dumsdums glets.

Yak, kembali ke novel ini. Ceritanya ringan. Seputar kisah cinlok KKN. Membaca buku dengan alur cerita seperti ini setelah KKN malah membuat saya ingin tertawa. Iya, ada banyak sekali cerita yang hampir mirip saya rasakan ketika masa KKN kemarin. And suddenly i miss those KKN thing. Walaupun ditempatkan di daerah yang jauh pakai banget, tapi saya bersyukur teman-teman KKN saya baik-baik semua.

Oh iya, alasan saya membeli buku ini pertama karena judulnya. Hal yang benar judul itu memiliki kekuatan tersendiri. Sekali melihat judulnya, saya langsung suka. Kalimat itu mengingatkan saya pada satu orang.

Orang yang dipertemukan dengan saya tidak dalam musim penghujan. Membaca itu menyenangkan ya? Seperti mengingat kembali kenangan yang sudah lewat. Walau cerita saya dan orang ini berbeda jauh dari yang disajikan dalam novel ini, tetap saja karena judulnya saya semakin mengingatnya.

Dia orang yang baik. Iya, tidak ada orang yang tidak baik sebenarnya. Tapi ada sih, saya misalnya. Saya merasa tidak baik. Tapi syukurlah, selalu ada orang yang membuat kamu merasa lebih baik atau berusaha membuat dirimu menjadi baik. Oh iya, saya bertemu dengan dia tidak dalam musim hujan. Tapi saya sering menggodanya dengan kata hujan. Saya memiliki teman yang mempunyai sahabat yang mempelajari sastra Jepang. Dan katanya, arti nama "ame" dalam bahasa jepang itu "hujan". Saya suka sama hujan. Suka sekali. 

Saya ingat sekali waktu dibulan desember, saya bersama Vivian bermain di bawah hujan. Kami menari, berlari, saling menyipratkan air. Saya dan Vivi melakukan itu di kampus. Agak konyol untuk perempuan seusia kami melakukan hal itu di kampus. But, who's care? Kami tidak peduli tatapan orang-orang di baruga yang melihat kami melempar payung kamu. Berlari ke tangga menuju lantai dua baruga. Berbaring disana dan saling melemparkan kalimat konyol. Rasanya senang sekali. Seakan semua beban ikut luluh bersama hujan yang turun. Entah mengalir kemana. 


FYI, it's Vivi who tell my name means is rain in Japanese language. Lalu saya memberitahu orang ini arti nama saya. Hujan.

Entah darimana saya menceritakan kaitan hujan dan cerita tentang kami. Tapi yang saya ingat jelas, dia menemani saya setiap hujan tiba. Walaupun saya selalu menghujani dia dengan hal-hal yang tidak baik. Tapi entah mengapa dia tidak memilih mengembangkan payung dan tetap bertahan dengan hujan ini. Saya juga ingat suatu hari  disaat saya sedang down, dia mengantar saya pulang. Waktu itu musim penghujan. Tapi saya menolak jaket yang dia tawarkan. Kataku "ini hanya hujan!" dan wosh! kami menembus hujan itu bersama. Basah kuyub pastinya, dan esoknya saya terkena  gejala tipes. Hahaha. It's kinda funny thing you know. Atau satu kali, juga dimusim penghujan. Saat itu saya ada tugas membuat essay foto. Dan saya memilih fly over. Dia ada, tentunya menemani dengan setia. Padahal itu siang yang terik. Tapi siapa yang sangka malamnya hujan deras. Waktu itu fisik saya sedang lemah, iya sih saya berfisik lemah. Dan akhirnya saya tidak sanggup untuk berkendara sendiri pulang. Dia yang mengantar. Rela menggendong saya yang kayak karung beras ini sampai dengan selamat depan pintu rumah. 

Saya jadi mengingat banyak hal setelah melihat judul novel tersebut. Hujan selalu punya cerita tentang kami. Entah itu kisah bahagia, atau kebalikannya. 

Dan saya sangat bersyukur karena sampai hari ini saya tetap menjadi hujannya. Dan semoga saja akan terus menjadi hujannya. 






i do love rain, because you're there with me#AM

Firasat

17 Agt 2013

fi·ra·sat n 1 keadaan yg dirasakan (diketahui) akan terjadi sesudah melihat gelagat.


Si
Kamu pernah tidak merasakan momen " i've got a feeling? "

Yap, saya sedang merasakan momen itu. This feeling really drive me mad. Saya tidak tau mesti ngapain. Mau marah juga tidak mungkin, karena sekali lagi ini hanya rasa. Kamu tidak akan tau itu bakalan terjadi atau tidak. Hanya rasa, mungkin terlalu sering merasa.

Seperti yang KKBI bilang diatas, firasat itu datang ketika saya telah (atau malah sering) melihat gelagat seseorang. Kadang saya sedih sendiri, karena terlalu banyak kenapa yang tidak bisa saya tanyakan kepada orang tersebut. Tapi sendainya saya bisa, kenapa yang paling besar itu ialah "kenapa mesti sekarang?"

Ada saat dimana kamu merasa dan yang dirasakan itu menjadi kenyataan. Kalau kejadiannya baik, siapa saja pasti berbahagia. Kalau kebalikannya? Semoga itu jalan Tuhan untuk menjadi lebih baik.

Sedih yang tak beralasan karena firasat. Bagi dia yang tidak merasa ini hanya rasa yang berlebihan atau bahkan konyol karena terlalu takut. Untuk apapun itu, sungguh saya tidak ingin takut.

Tulisan ini saya publish dengan harapan semoga yang bertingkah terlalu berlebihan bisa mengerti kalau there's someone out there watching your attitude. Dan kadang kalau untukmu tidak berlebihan tapi malah bisa menjadi firasat buruk bagi yang lain. Jadi tolong, ikhlaskan saja yang berlalu, bila itu terlalu berlebihan cukup ingat kalau tidak ada salahnya menjaga perasaan orang lain. 

Terima kasih.

Te
Sedi



I've 



I;

Intuisimu, puisi.

11 Jun 2013

Malam aku bercerita tentang cinta. Menilik kisah yang tak pernah aku ingin temui akhirnya. Bila diumpakan sebagai buku, akan penuh gambar berwarna. Cerah dan ceria, pula sedih dan duka. Terpaku aku oleh semilir kenangan.

Aku berpelukan erat dengannya. Kuhirup dalam kenangannya, menyenangkan tentu tapi tak selalu menenangkan. Selaksa kecupan ia daratkan, kubalas pelan. Melumat jimat selamanya, aku ingin mengabadi dalamnya. Tak ingin aku kehilangan memoar tentangnya. Jangan beri koma atau tanda seru. Kecupan tak semulus rambutnya. Sehitam alisnya, kuukir kisah sedalam matanya. Sisipkan kasih dalam bibirnya, usapkan sayang dalam dadanya yang tak lapang, tak kunjung lapang. 

Ada yang berjibaku dengan jiwaku. Dosa kah itu? ataukah doa yang terselip dalam setiap bunga tidur daripada malam-malamku? Berontak ia, jauh... jauh tak dapat kujangkau. Tanganku tak sampai, apalagi kasihku.

Petikkan aku nada-nada patah hati. Kembarkan rasanya. Percuma. Tidak ada yang mengerti...

Tiga titik dalam tiga hari. Mengekalkan detik-detik kata-kata. Jangan beri aku janji atau kasih, bila tak semua ingin kau bagi. 

Mengandaikan rindu sebagai bendungan. Runtuh teruntuk yang mengukir pahit, tunjukkan ia arah agar kembali.

Aku ingin kembali...

Pernah aku bilang, bahwa cemburu itu peluru. Lalu semua berhenti...begitu saja.

Oh Tuhan, betapa aku mencintai untuk terus mencintanya. Biarkan aku mengabadi, dalam setiap tarikan nafasnya. Bila itu berlebihan, setidaknya jangan tahan aku untuk terus mengasihinya dalam tiap tetes tangisku. Aku tidak ingin dilepaskan, pula tidak dengan pelepasan. 

Dosa kah? Doa tentunya.


aku selalu ingin menjadi perempuan yang menyeduhkan teh disetiap fajar untukmu, maka biarkan kita menjadi kenyataan yang sesungguhnya...

Ku harap kamu tidak capek membacanya

6 Jun 2013

Belakangan ini otak saya semakin dipenuhi oleh banyak kalimat. Mereka serasa berlari dan berputar terus-menerus. Berotasi mungkin. Seandainya otak bisa ngomong, mungkin dia juga mau bilang kalau dia juga capek.

Iya, saya pun sedang capek. Untuk berpikir, menjalani rutinitas, ini dan itu. Menghadapi padatnya jalanan kota Makassar yang entah mengapa makin hari makin membuat capek saja.

Dulu, kalau saya capek dia selalu ada. Bersedia menanggalkan kegiatan yang sedang dia kerjakan. Untuk beberapa saat saja tentunya. Karena tidak mungkin dia akan meninggalkan semuanya hanya demi mendengar keluh saya. People changes, it's sweetly natural. Dia pun seperti itu.

Mungkinkah dia juga sudah mulai capek? Capek sama saya, sama semua. Atau mungkin saya yang capek? Capek untuk mengerti kalau saya harus mengerti. Capek memaklumi dan harusnya memang memaklumi. Karena dari awal dia sudah memberikan pemberitahuan.

Tetap saja saya capek. Capek untuk berjalan kaki sendiri, memakai headset mendengarkan lagu mellow kemudian berganti dengan aliran yang lebih ngebeat tapi tetap saja saya capek. I need somebody to share on. 

Bisa saja kita perlu menyamakan lagi persepsi mengenai rasa sayang yang kita pegang dalam hubungan ini. Sayang seperti apa? Apakah seperti mengerti bahwa tidak akan ada yang berjalan sesuai dengan yang diharapkan oleh salah satu pihak? Ataukah seperti mengerti kalau memang apa yang telah disukai ataupun orang-orang yang lebih membuat nyaman itu selalu dinomer satukan? Atau mungkin kita harus membuat artian baru dari rasa sayang itu menjadi tidak ada yang memaksa untuk selalu bisa ada disaat yang paling dibutuhkan sekalipun?

Saya capek. Benar-benar capek. Too tired to explain. 

Kenapa? Karena sudah seharusnya saya capek. Bahkan untuk mengerti diri sendiripun saya mulai capek. Padahal saya sadar betul, kalau tidak ada yang akan menyayangi dirimu seperti kamu menyayangi dirimu sendiri. Sebut saya cinta diri. Karena saya memang mencintai diri saya. Dan saya masih capek, juga memilih diam sampai kamu mengerti kenapa saya capek.

Merindu

26 Mei 2013

time flew too fast, or may be i just too slow to realize that we're grow up day by day. how ever, i miss the so damn much...































masa KKN sudah didepan mata, dan aku merindukan masa-masa sekolah...

Pulang

21 Mei 2013

"home is where your heart belong"

Those words are definitely true. It's about a week which makes me feel so weak. Tidak berada disisinya memang bukan perkara yang mudah. Entah berapa kali harus menumpahkan hujan diujung mata sampai membuka mata dipagi hari dengan degup jantung yang lebih cepat dari biasanya.

But, after a hurricane comes a rainbow. Iya, setelah mengatakan yang memang seharusnya dikatakan, akhirnya sebuah pelukan hangat mendarat mulus. Memenuhi rongga pernapasan ini dengan wangi khas kekasih,membuat sesak bahagia. Dan sering kalimat itu terlontar, hujan turun dan selang beberapa saat pelangi muncul. 

Alhamdulillah, saya pulang.

sore tadi selepas hujan, melihat pelangi bersamanya

Setengah Quotes, Selebihnya yahgitudeh...

16 Mei 2013

"Date with a man who ruin your lipstick, not your mascara"

Well, saya pernah membaca kalimat yang tadi entah dimana. Dan kalimat itu kembali membuat saya berpikir hari ini. Tadi lebih tepatnya sesaat setelah saya mencuci muka dan mengganti baju rumah.

I just lost the most kind boyfie i've ever had. Tulisan ini memang akan mengarah kecurahan hati penulisnya, saya. Kembali ke kalimat awal yang saya miringkan diatas sana. I was date with a man who ruin my lipstick, dalam artian dia itu selalu berhasil membuat saya tertawa. Bahkan disaat tidak ada lagi hal yang perlu ditertawakan. Bilapun kami diam, tetap saja terasa hangat. Kami sering berbicara mengenai berbagai hal. Dan bahagianya seberapa konyol dan bodohnya pun pertanyaan yang saya lontarkan, dia selalu bisa menjawabnya. Kami akan membicarakan banyak hal. Berbicara hingga kami membuat kesimpulan masing-masing. Dia baik. Lelaki yang baik. Sangat baik.

And he was the man who ruin my mascara today. Dalam artian yang sesungguhnya. Iya, dia mampu membuat maskara saya luntur sekejap sebelum dosen public speaking masuk. Bukan dia yang membuat saya menangis. Tetapi dia alasan mengapa saya menangis.

I was the luckiest girl in this universe. Yes, i was. When he was my man.

Tapi semuanya berubah ketika negara api menyerang. Eh, nggak ding. Apinya bukan dari negara apinya Avatar. Tapi api yang saya sulut sendiri. Bodoh memang, dan kalimat itu sudah sepantasnya saya cari artinya dikamus dan mengulangnya lagi berkali-kali didepan cermin. Bukan dia yang seharusnya mencari arti.

Kehilangan dan menghilangkan itu sama. Sama-sama sakit.  Saya kehilangan dan menghilangkan hal terpenting dalam lini hubungan kami.

Kepercayaan

Lalu apa yang saya dapat? Ialah sepucuk surat yang tidak pernah berani saya kirimkan. Semuanya ada disana. Semuanya. 

Sampai saat ini saya merasa berada dikapal. Saya ini tipe yang mabuk laut. Terombang-ambing dan membuat gemetar. Anggap saja saya berada dikapal, dan obat anti mabuk laut itu dengan cerobohnya saya jatuhkan kelaut. Tenggelamlah dia. Gak kelihatanlah dia. 

Ada banyak hal yang bahkan tidak bisa diwakilkan oleh huruf. Bahkan kalimat. Termasuk perasaan. Baik perasaannya dan juga yang saya punya.

Apapun itu, saya kehilangan. Benar-benar merasa kehilangan. 

Anggap saja hal yang biasa, saat ini saya butuh obat tidur.


teruntuk kamu, lelaki kedua di rumah R 38.

p.s : ada banyak hal kenapa saya membanting stir ke arah reguler. dan kamu salah satu alasannya.

Kehilangan kamu, lagi

14 Mei 2013

Harus berapa kali kita bertengkar, untuk mengerti dalam tenang kita lebih baik. Jauh jauh lebih baik dari saat ini?
Harus berapa kali aku kehilangan, untuk membuat kamu mengerti kalau bersama jauh lebih baik dibanding aku harus menghadapi semuanya sendiri?
Harus berapa banyak kata harus yang terketik agar kamu mengerti kalau aku sekarang kehilang kamu, lagi.

Kehilangan arah lagi, sayang.

Mungkin, masih kemungkinan.

13 Mei 2013

Mungkin, bukan kita yang berbeda.
Bukan sikap, pula sifat.

Mungkin, bukan waktu yang berubah.
Tetapi kita hanya salah melangkah.

Tergelincir pada memori yang salah.
Terpaku waktu oleh lalu.

Pete'-pete' dan Segudang Cerita Didalamnya

5 Apr 2013

Pete'-pete'. Siapa sih yang nda tau kendaraan umum yang satu itu? Mobil dengan cat dasar biru langit itu yang paling banyak berkeliaran di kota ini. Well, saya dan pete'-pete' telah bersama mungkin sejak saya masih dalam kandungan ibu. Bahkan sampai sekarang pun saya masih menjadi pelanggan setia pete'-pete'.

Pete'-pete' ini setia sekali mungkin pacar saja kalah setianya dengan dia, walaupun terkadang ada beberapa supir yang menyuruh saya turun ditengah perjalanan dan melanjutkan perjalanan dengan pete'-pete' yang lain.

Siang ini, seperti biasa karena ada jadwal kuliah makanya saya ke kampus. Dengan menggunakan jasa pete'-pete' tentu saja. Yap, saya naik dan beberapa saat kemudian beberapa anak sekolah yang baru pulang juga ikut menumpang. Namanya saja kendaraan umum, jadi kita harus siap dengan segala keadaan. Seperti yang saya alami siang tadi, sampai saat ini saya masih nda ngerti. Kenapa anak sekolah itu kalau ngobrol harus teriak-teriak? Itu kan buat saya jadi makin pusing, selain karena cuaca siang tadi yang luar biasa hot, ditambah lagi headset saya terkalahkan oleh suara anak sekolahan itu yang ngobrol tentang Running Man. Film korea sepertinya. Kamu tau kamu cuma perlu kesabaran ekstra untuk menahan diri tidak menegur anak sekolahan itu. Namanya saja anak-anak -____-"

Lalu setelah kuliah hari ini berakhir, seperti biasa juga, saya kembali ke tempat saya selama hampir setahun ini menulis. Tentunya dengan pete'-pete' yang mengantar. Sejauh ini yang saya pikirkan bahwa diam adalah bahasa para penumpang pete'-pete'. Iya, kita diam. Beberapa yang saya lihat sibuk dengan gadgetnya sendiri, atau ada juga yang diam karena tertidur. Saya pun biasa ketiduran di pete'-pete'. Itu sebenarnya nda baik, banyak hal negatif yang mungkin bisa saja terjadi.

Setelah selesai segala kegiatan di gedung berlantai 19 depan fly over, akhirnya saya pulang. Hampir belakangan ini saya tidak pernah pulang dibawah jam delapan malam. Sabar saja. Saya harus berjalan kaki sampai diujung fly over untuk menunggu pete'-pete' 05 lewat. Kadang sesekali menengok kearah fly over. Melihat pemandangan yang nda asing lagi, iya.. banyak yang pacaran disitu. Sampai sekarang pun saya tidak mengerti dimana letak romantisnya.

Hingga akhirnya saya menaiki pete'-pete' 05. Saya berdua saja dengan supirnya. Agak deg-degan sih. Maklum, walau sedang mencoba mandiri saya masih sering was-was juga kalau pulang malam. Tetapi untungnya kemudian ada sepasang suami istri dan anaknya yang ikut menumpang pete'-pete' itu.

Si ayah dan anaknya duduk didepan, sedangkan ibunya duduk dibelakang bersama saya. Karena kurang pekerjaan dan nahan kantuk saya jadinya perhatikan amplop besar yang ibu itu bawa. Ternyata amplop itu hasil rontegen, seperti kepunyaan saya waktu paru-paru ini diperiksa, juga satu amplop besar lainnya. Mungkin itu hasil pemeriksaan lab. 

Jadi saya mengambil kesimpulan bahwa si anak mungkin saja baru sembuh dari sakitnya, makanya dia duduk di depan. Karena ibunya takut dia muntah kalau duduk dibelakang.

Hampir setengah perjalanan, ada satu penumpang lagi naik. Seorang bapak berpeci hijau. Kami masih diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing mungkin.

Rumah saya sudah dekat ketika keluarga tadi turun. Pete'-pete'nya menepi. Kemudian si ibu dengan suara yang memang besar dan seperti memerintah menyuruh si suami untuk menggandeng anaknya.

Setelah ibu itu turun, si bapak berpeci hijau itu mulai komentar bersama si supir pete'-pete'.

Bapak peci hijau : "Itu mi saya nda setuju ada komisi perlindungan perempuan. Liat mi itu tadi, kayak dia perintah-perintah suaminya. Padahal kan itu laki-laki kepala rumah tangga"

Supet : "Iya pak, daritadi mi itu kayak begitu"

Kemudian si bapak berpeci hijau itu menoleh kearah saya, sambil menghisap rokoknya dia mulai lagi berkomentar.

Bapak peci hijau : "Kan nda mungkin itu ada laki-laki mau kasari perempuan kalau perempuannya yang nda keterlaluan pertama. Itu dibelakang rumah ku saja banyak perempuan yang kelakuannya kurang ajar. Biasa ambil kredit nda bilang-bilang sama suami, suka mi bergosip, apa mi lah disitu. Baru biasa juga tidak dia perhatikan suaminya"

Jeda sedikit, si bapak menghisap rokoknya dulu. Saya masih senyum-senyum saja mendengarkan.

Bapak peci hijau : "Sebenarnya itu suami mau juga diperhatikan. Mau juga dirawat. Bayangkan kita sudah kerja keras cari uang. Kepala di kaki, kaki di kepala buat penuhi maunya istri. Tapi eeee pas ki sampai di rumah nda ada pi makanan siap. Biar tong itu makanan masih dipanci asalkan masak mi kan enak juga, atau paling tidak air panas kah buat kita. Ini nda ada mentong. Wajar ji yang gitu ditampar. Atau kayak itu ibu tadi, kayak betul dia bos daripada suaminya"

Saya masih senyum, dan bilang "kiri pak" karena lorong rumah sudah didepan mata. Tidak lupa bilang "duluan pak" sama si bapak berpeci hijau itu. Entahlah, mungkin setelah saya turun si bapak masih melanjutkan komennya mengenai si ibu tadi.

Well, selama saya jalan masuk lorong menuju rumah saya berpikir. Si bapak nda ngerti, kalau ibu yang tadi itu mungkin sedang pusing atau mungkin khawatir tingkat tinggi mengenai keadaan anaknya makanya dia jadi galak begitu. Mama saya sendiripun kalau saya sedang sakit bisa jadi panik dan berubah jadi luar biasa sensi. Karena katanya mama juga nda tega liat saya sakit makanya dia jadi suka marah-marah, demi kebaikan tentunya.

Apa yang bisa kamu simpulkan dari cerita saya diatas? Kalau saya sih menyimpulkan dua hal. Yang pertama itu kalau kita manusia memang selalu ingin dimengerti. Tapi kadang lupa untuk melihat hal-hal kecil lainnya. Seperti, jangan suka mengambil kesimpulan sendiri sampai mengabaikan perasaan orang lain. Dan yang kedua, naik pete'-pete' walaupun jujur saya sudah lelah untuk menaiki kendaraan umum yang satu ini, tapi mau tidak mau ada banyak pelajaran yang bisa diambil didalamnya. Itupun kalau kamu tidak terlalu sibuk untuk memikirkan hal-hal lain.

Sekian dari saya. Semoga kita semua bisa saling mengerti satu sama lain :)

Wassalam


ps : semoga apski sehat selalu, dan diantara setumpuk kesibukannya tidak lupa, kalau ada juga satu perempuan manja yang ingin dimengerti dan sedang berusaha mengerti dirinya.

Catatan Hidup Siang Ini

4 Apr 2013

Hidup belakangan ini menurutku menjadi semakin serius. Apa-apa dibawa serius. Jadinya semakin gampang sensi gitu. Hidup belakangan ini menurutku menjadi semakin mistis. Apa-apa kejadiannya biasa terjadi dan terlewat begitu saja. Tanpa sempat dicegah untuk ditanyakan maksudnya sebentar.

Belakangan ini ada banyak hal yang tidak lagi bisa berjalan seperti dulu. Siang hari yang terik meluluhkan keringat. Juga mungkin sedikit harapan dari saya. Ada banyak hal yang tadinya tidak terencanakan malah jadi prioritas utama sekarang.

Mungkin, sama halnya dengan teman. Teman hidup. Orang yang selalu bisa mendengarkan keluhan penat hari saya, kemanjaan saya, dan lain sebagainya. Sekarang jadi sibuk. Sekali lagi, hidup belakangan ini menurutku menjadi semakin serius. Dan nampaknya hal itu juga berlaku untuk dia.

Tapi kemudian malam kemarin saya mulai mengerti. Kalau tidak ada ngambek yang tidak bisa dibujuk. Yah, walaupun mungkin kamu mesti menjalankan lagunya Audi yang menangis semalam. Karena saya kesal. Kesal dengan semua kesibukannya. Tapi kemudian sekali lagi saya mulai menyadari, setidaknya dia pernah ada disaat saya benar-benar butuhkan. Seperti kamu lagi rindu dan tiba-tiba led hape mu berkedap-kedip merah dan menampilkan namanya, di ujung telpon dia bilang hal yang benar-benar butuh kamu dengar.

Iya, belakangan ini saya harus belajar. Bahwa words without action is nothing, kecuali kamu punya segudang pengertian yang bisa membelah diri dan tiada habisnya. Karena tidak ada yang salah dengan bersabar.

Akhirnya, tulisan ini saya akhiri dengan senyum. Sambil mendengarkan lagu download-an kakak saya yang sedari tadi berguling tidak jelas.

Oh iya, siang ini panas. Tapi syukurnya hati ini tidak lagi sepanas udara diluar.

Semoga kita semua bahagia dengan kesibukan masing-masing. Dan semoga segala kesibukan itu tidak memisahkan kita dengan mereka yang tersayang.

You're the truly exception

5 Mar 2013

via tumblr


Telah tiba masa dimana aku benar-benar merindukan kita

Kemarin malam aku bermimpi. Bunga tidur yang satu itu membawaku kembali pulang. Ke tempat yang benar-benar aku rindukan. Aku pulang. Kamu ada disana, menyambutku dengan segelas penuh teh hangat dan banyak sekali coklat. Kita banyak sekali bercerita. Berbagi apa yang seharusnya lama kita bagi. Berpelukan seerat-eratnya pelukan kekasih baru. 

Ada banyak sekali candaan yang terlontar. Aku sampai hampir lupa bernafas karenanya. Kamu terlihat sehat. Kita terasa bahagia. Lalu kemudian tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 14.30. Saatnya kita tidur, katamu.

Kita. Bukankah itu kata yang mengharukan? Maksudku, bukan lagi aku yang harus tidur, tidak juga kamu seorang. Tapi aku dan kamu yang harusnya melakukannya bersama. Melebur menjadi satu kesatuan yang harusnya tak terpisahkan. Bukankah begitu idealnya?


Masa dimana aku merindukan kita benar-benar tiba

Berdentang dua belas kali tanpa spasi. Dengan irama yang teratur aku terbangun. Ternyata yang kutemukan hanya diriku sendiri. Tidak denganmu. Pun demikian dengan kita. Selongsong peluru mendarat dengan mulus di hatiku. Meninggalkan lubang pekat yang tak terukur.

Aku bertanya. Sekali, lagi harusnya aku mendengar. Sekali dua kali lagi, harusnya kamu menjawab. Tiga empat lima, harusnya kita bergerak. Dulu, dari dulu kata waktu. Karena tidak setiap apa dapat terjawab seketika juga bela ku.

Kita. Bukankah itu kata yang menyenangkan? Maksudku, kamu tidak perlu ragu sendiri. Aku juga tak perlu gelisah. Karena masing-masing bagian diri telah tergabung. Tak terpisahkan harusnya selalu bersama. Bukankah begitu idealnya?


Aku telah tiba pada masa benar-benar merindukan kita

Tidak ada lagi yang seharusnya terasa perih. Luka punya waktu. Juga waktu tak terbatas. Karena aku tak tahu, bahagiaku selalu mengiringi langkahmu. 

Walau aku dan kamu tidak lagi menjadi kita. Karena kita terlalu jauh bermain. Akan selalu ada masa dimana aku merindukan kita. Karena pengecualian yang sesungguhnya adalah kamu aku yang akan selalu menjadi kita.









Setidaknya aku selalu mendoakanmu bahagia selalu. Pulanglah  kapanpun kamu inginkan, aku merindukan kita...

Sunday

24 Feb 2013



"Sunday is sweet. But to spend this sunday with you is sweeter"-AZH

Kosong

11 Feb 2013

"if something belong to you, no matter how hard the situation it will find a way to back to you"

Setiap dari kita memang butuh sesekali tertampar dengan keras untuk menyadarkan.
Lalu, setelah segala sakit yang kau rasakan apakah sadar sudah menjadi jalan terbaik?


"when did the rain become a storm? when did the clouds begin to form? we got knocked out off course by a natural force, and we'll swimming when it's gone"

Bahkan setelah semua cermin kuhancurkan
Mengapa masih kepedihan yang terlihat?


"you left me hanging from a thread we once swung from together, it's beyond to you who cannot carry the weight of the heavy world"

Kemudian aku tersadar
Kita hanya hilang arah untuk pulang



"selalu, aku mencintaimu.  selama lamanya lama.  aku merindukan kita"


Kamu

22 Jan 2013

via tumblr
Bila boleh aku duduk sebentar saja. Untuk mengistirahatkan raga ini.
Dan bila kau masih berbaik hati, untuk membiarkanku berbaring atas segala kegelisahan hari.

Dimanakah ketenangan yang pernah terasa itu? Meluapkah ia bersama waktu?
Bilamanakah dia kembali? Aku rindu tiada bertepi.

Pernah aku bilang aku lelah? Tapi dedaunan telingamu telah tertutup rapat, meragu aku pula dengan detak hati mu.

Jadi, aku bisa apa? Menghela akan terpaan keyakinanmu.
Aku harus apa? Bila segala yang bisa kau percaya ialah dirimu sendiri.

Belati menari manis, ku tepis dengan setitik tinta dari pena aku. Namun lambat, curahan darah kesetiaan mengalir lembut dari nadiku.














Aku ingin tertidur, untuk selamanya (saja)
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS